RSS

Aplikasi Aliran Transformatif-Generatif dalam pembelajaran bahasa arab

15 Mei

BAB I

PENDAHULUAN

Tata bahasa Transformasi Generatif atau biasa disebut Tata bahasa Generatif Transformatif adalah sebuah konsep kajian kebahasaan yang diperoleh oleh Noam Chomsky. Pada thun 1957 Chomsky mengenalkan gagasan barunya melalui sebuah buku yang berjudul Syntactic Structure.

Teori transformasi merupakan salah satu aliran linguistik yang berasumsi bahwa pembelajaran bahasa adalah sebuah proses pembentukan kaidah, bukan sebagai pembentukan kebiasaan, seperti yang diyakini oleh aliran strukturalisme dan didukung oleh behaviorisme.

Teori kebahasaan transformasi ini merupakan teori (mutakhir) yang dirintis oleh Linguis Amerika Serikat Noam Chomsky yang hendak mempertahankan asumsi dan hipotesis mengenai yang dikemukakan:

  1. Perbedaan antara competence dan  performance.
  2. Pembedaan antara deep structure dan surface structure
  3. Aspek kreatif bahasa atau dikatakan pula sifat dinamis bahasa.

Chomsky berpendapat bahwa tujuan dari semua teori bahasa hendaknya dihubungkan dengan ilmu tentang kaidah-kaidah bahasa yang ada di dalam akal si penutur bahasa, yakni semua kaidah pengetahuan bahasa menjadi patokan.dengan pengetahuan kaidah bahasa itu menjadikan penutur bahasa tertentu bisa melahirkan dan menginovasikan semua kalimat-kalimat dengan benar didalam bahasa yang di maksud. Ia juga bisa menjauhkan dirinya dari melakukan kesalahan dalam membuat kalimat yang tidak benar.

Dalam sebuah pembelajaran,aliran ini berasumsi bahwa pembelajaran bahasa adalah sebuah proses pembentukan kaidah bukan pembentukan kebiasaan. Aliran ini juga menjelaskan adanya struktur lahir dan struktur batin. Menurut aliran ini bahasa merupakan fitrah, maka belajar bahasa menurut aliran ini merupakan sebuah proses manusiawi yang menghendaki adannya aktualisasi potensi kebahasaan.   

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    Konsep Aliran Transformatif-Generatif

Linguis Amerika Noam Chomsky disebut sebagai tokoh utama teori kebahasaan Transformatif Generatif.[1] Tata bahasa transformasi lahir dengan terbitnya buku Noam Chomsky yang  berjudul Syntactic Structure (1957) yang kemudian diperkembangkan karena adanya kritik dari berbagai pihak. Aspect of The Theory of Syntax (1965), buku Chomsky yang kedua ini memperkenalkan model tata bahasa Transformasional generative grammar yang kelak kemudian dikenal dalam bahasa Indonesia dengan teori kebahasaan transformasi atau tata bahasa generatif.[2]

Chomsky melihat bahwa bahasa adalah kunci untuk mengetahui akal dan pikiran manusia. Manusia berbeda dengan hewan karena kemampuannya berpikir dan kecerdasannya, serta kemampuannya berbahasa. Itulah yang menjadi aspek paling fundamental dalam aktivitas manusia. Karena itu, sangat tidak logis jika bahasa yang sangat vital ini berubah menjadi berbentuk susunan kata yangterstruktur, kosong dari makna, seperti pendapat kaum strukturis dan behavioris.[3]

Tata bahasa transformatif-generatif membedakan dua struktur bahasa, yaitu “struktur luar” (surface structure – al-bina:’ al-zha:hiri) dan “stuktur dalam” (deep stucture -  al-bina: ’ al-asa:si). Bentuk ujaran yang diucapkan atau ditulis oleh penutur adalah stuktur luar yang merupakan manifesta dari struktur dalam. Ujaran itu bisa berbeda bentuk dengan struktur dalamnya, tetapi pengertian yang dikandung sama.[4]  

Sejalan dengan itu, maka Chomsky membedakan adanya kemampuan (competence) dan pelaksanaan atau perlakuan[5] bahasa (performance). Kemampuan adalah pengetahuan yang dimiliki pemakai bahasa mengenai bahasanya. Sedangkan perbuatan bahasa adalah pemakaian bahasa itu sendiri dalam keadaan yang sebenarnya. Kompetensi atau kecakapan adalah suatu proses generatif, dan bukan “gudang” yang berisi kata-kata, frasa-frasa, atau kalimat-kalimat seperti konsep langue dalam teori linguistik De Sausssure.[6] Dalam tata bahasa generatif ini, maka yang menjadi objeknya adalah kemampuan ini, meskipun perbuatan bahasa penting dan yang perlu dan menarik bagi seorang peneliti bahasa adalah sistem kaidah yang dipakai si pembicara untuk membuat kaliamat yang diucapkannya. Jadi, tata bahasa harus mampu menggambarkan kemampuan si pemakai bahasa untuk mengerti kalimat yang tidak terbatas jumlahnya, yang sebagian besar barangkali belum pernah didengarnya atau dilihatnya.

  1. B.     Asumsi teori transformasi

Beberapa asumsi yang mendasari pendekatan bahasa secara transformasional sebagai berikut:

  1. Bahasa merupakan satu produk kebudayaan yang kreatif manusiawi. Dengan hanya sejumlah terbatas unsur bunyi dan kaidah bahasa, seorang penutur dapat menghasilkan sejumlah tak terbatas kalimat yang dapat dipahami oleh lawan bicara walaupun ia belum pernah mendengar sebelumnya.
  2. Bahasa bukan merupakan rekaman tingkah-laku luar yang berupa bunyi yang dapat didengar atau merupakan tingkah-verbal, melainkan bahasa merupakan satu proses mentalistik yang kemudian dilahirkan dalam bentuk luar bunyi bahasa yang didengar atau kelak dimanifestakan dalam bentuk tulis.
  3. Bahasa merupakan satu proses produktif. Sebab itu, metodologi analisis bahasa harus bersifat deduktif dan bukan induktif seperti yang dilakukan oleh penganut teori-teori kebahasaan strukturalis.
  4. Bahwa formalisasi mamtematis dapat juga dikenakan pada formalisasi sistem produktif bahasa.
  5. Analisis bahasa tidak dapat dilepaskan dari hakikat bahasa yang utuh yakni bunyi dan makna. Jadi, dalam analisis bahasa makna harus ditegaskan kedudukannya dan ikut berperan secara nyata dalam proses berbahasa.

 

  1. C.    Aplikasi Teori Transformatif-Generatif dalam Pembelajaran Nahwu dan Shorf

Teori gramatika transformasi generative (an-nahw at-tahwiliy at-taulidiy) mempunyai tiga sendi utama, yaitu:

Pertama, kaidah struktur ungkapan, yaitu kaidah yang menjelaskan bahwa kalimat ungkapan itu terstruktur dari ungkapan-ungkapan, sedangkan ungkapan-ungkapan itu terbentuk dari kata-kata.

Kedua, kaidah transformasi, yaitu sejumlah aturan yang harus diterapkan secara ketat. Sebagian kaidah itu bersifat keharusan (ijbariy/obligatori) dan sebagian lagi bersifat pemilihan (ikhtiyariy/optional).

Ketiga, kaaidah-kaidah morfologi bunyi, yaitkaidah yang menetapkan bentuk akhir suatu kata yang diucapkan atau ditulis.

Dari teori  di atas telah diketahui  teori Transformatif-Generatif dan beberapa penjabarannya. Dapat diterapkan dalam pembelajaran Bahasa Arab, dalam hal ini pada pembelajaran Nahwu dan Shorf. Dengan mengacu pada pola-pola transformasi kalimat yang dapat dikembangkang melalui:[7]

  1. Penghilangan/pembuangan (al-hazf/delation) seperti:

كتب أحمد درسا جديدا← كتب أحمد درسا

  1. Penempatan (al-ihlal) seperti:

الله سميع عليم predikatnya ditempati kata lain, sehingga menjadi الله غفور رحيم

  1. Perluasan (al-ittisa) seperti perluasan dengan sifat atau idhafah:

الجامعة مبشهورة menjadi الجامعة الكبيرة مبشهورة

الباب مفتوح menjadi باب الفصل مفتوح

  1. Penyingkatan (al-iktishar/reduction) seperti:

رئس القرية جديد  menjadi رئس جديد

  1. Penambahan (az-ziyadah/additional) yakni penambahan unsure baru dalam kalimat dengan struktur athfi seperti:

الطالب نشيط menjadi الطالب والمدرس نشيطان

  1. Pengulangan urutan (i’adah at-tartib/permutation) misalnya dengan merubah jumlah ismiyyah menjadi jumlah fi’liyyah atau sebaliknya, seperti:

يحضر الطلاب menjadi الطلاب يحضرون .

Prinsip-prinsip Pembelajaran Bahasa

Berdasarkan dari uraian tentang konsep dan asumsi-asumsi teori transformatif –generatif dan aplikasinya dalam pembelajaran, dapat dirumuskan prinsip-prinsip pembelajaran bahasa yang juga didasarkan pada teori Chomsky. Yaitu:

  1. Pembelajar tidak harus diberikan latihan (drill) secara intensif tetapi hanya dibimbing saja oleh gurunya
  2. Karena kemampuan belajar bahasa adalah sebuah proses kreatif, maka pembelajar harus diberi kesempatan yang luas untuk mengkreasi ujaran-ujaran dalam situasi komunikatif yang sebenarnya, bukan sekedar menirukan dan menghapal.
  3. Guru memberikan kaidah bahasa dan selanjutnya dikembangkan oleh pembelajar.
  4. Pemilihan materi pelajaran tidak ditekankan pada hasil analisis kontrastif, melainkan pada kebutuhan komunikasi dan penguasaan fungsi-fungsi bahasa.
  5. Kaidah nahwu dapat diberikan sepanjang hal ini diperlukan oleh pembelajar sebagai landasan untuk mengkreasi ujaran-ujaran sesuai dengan kebutuhan komunikasi.
  6. Guru harus yakin bahwa siswa mampu menginternalkan kaidah-kaidah yang memungkinkan siswa mampu menghasilkan kalimat.[8] 

BAB III

KESIMPULAN

Setelah penulis memaparkan konten pembahasan dari makalah ini, maka sebagai langkah terakhir dapat dibuat kesimpulan sebagai berikut:

  1. Teori transformatif-generatif Chomsky adalah teori linguistik yang menerangkan dengan jelas pembentukan kalimat-kalimat gramatikal dan menjelaskan struktur luar untuk menentukan suatu kalimat.
  2. Adapun aplikasi teori Chomsky dalam pembelajaran di antaranya ialah pembelajaran tidak mesti diberikan latihan secara intensif, tetapi hanya hanya dibimbing saja oleh gurunya; pembelajar harus diberi kesempatan yang luas untuk mengkreasi ujaran-ujaran dalam siruasi komunikatif yang sebenarnya, bukan sekedar menirukan dan menghafalkan; kaidah bahasa yang diberikan oleh gurunya  dikembangkan oleh pembelajar; pemilihan materi tidak ditekankan pada hasil analisis kontrastif, melainkan pada kebutuhan komunikasi dan penguasaan fungsi-fungsi bahasa; dan sebagainya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 2009. Psikolinguistik Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta.

Efendy, Ahmad Fuad. 2009. Metodologi Pengajaran Bahasa Arab. Malang: Misykat.

Fachrurrozi, Aziz dan Erta Mahyuddin. 2010. Pembelajaran Bahasa Asing Metode Tradisional dan Kontemporer. Jakarta: Bania.

Parera, Jos Daniel. 1991. Kajian Linguistik Umum Historis Komparatif dan Tipologi Struktural. Edisi ke-2 Erlangga.

Makalah psikolinguistik “teori Chomsky dan pembelajaran bahasa arab” oleh Agus Solihin.

http;//www.scrib.com/doc/33723516/Teori-Chomsky-Dan-Pengajaran-Bahasa-Arab


[1] Jos Daniel Parera, Kajian Linguistik Umum Historis Komparatif dan Hipologi Struktural. Penerbit Erlangga: 1991. Hal.13

[2] Drs. Abdul Chaer. Linguistik Umum. Rineka Cipta: 1994. Hal. 363

[3] Abdul aziz. Psikolinguistik Pembelajaran Bahasa Arab.hal71

[4] Ahmad Fuad Efendy. Metodologi Pengajaran Bahasa Arab. Misykat: 2009. Hal.19

[5] Drs. Abdul Chaer. Psikolinguistik Kajian Terapan. Rineke Cipta: 2009. Hal. 77

[6] Drs. Abdul Chaer. Psikolinguistik Kajian Terapan. Rineke Cipta: 2009. Hal. 78

[7] Prof. Dr. H. Aziz Fachrurrozi, M.A. dan Erta Mahyuddin, Lc., S.S., M.Pd.I. Pembelajaran Bahasa Asing. Bania: 2010. Hal.27

[8] Makalah psikolinguistik “teori Chomsky dan pembelajaran bahasa arab” oleh Agus Solihin.

http;//www.scrib.com/doc/33723516/Teori-Chomsky-Dan-Pengajaran-Bahasa-Arab

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 15, 2012 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 131 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: