SOAL UAM PENJASKES

II. Berilah tanda silang (X) pada soal diawah ini !
1. Organisasi sepak bola dunia adalah…
a. FIG b. PSSI c. FIFA d. PSIS e. PSSI
2. Tujuan utama gerak tipu dalam permainan sepak bola …
a. Menunjukkan ketrampilannya d. Mengecoh lawan
b. Menunjukkan kelenturan tubuhnya e. Memancing lawan untuk bergerak
c. Memperlihatkan penguasaaan teknik
3. Operan yang paling baik untuk melakukan tembakan adalah operan …
a. Melambung setinggi dada d. Melambung tinggi
b. Melambung diatas kepala e. Mendatar di tanah
c. Memantul pemain lawan

4. Induk organisasi bola voli nasional adalah …
a. IPSI b. PERBASI c. PBVSI d. PSIS e. PBSI
5. Ukuran lapangan bola voli adalah …
a. 9 x 12 m b. 12 x 18m c. 12 x 6 m d. 9 x 18 m e. 7 x 14 m
6. Berikut ini yang bukan kategori smash berdasarkan tingginya umpan adalah …
a. Open smash b. Push smash c. Semi quick smash d. Quick smash e. Strong smash
7. Pemain dalam sebuah tim bola volli yang bertindak sebagai pemain bertahan dan posisinya didaerah belakang, dan tidak berhak melakukan pukulan serangan servis, block, maupun usaha memblock disebut……
a. Goal keeper b. Libero c. Tosser d. Smasher e. Back
8. Yang tidak termasuk dalam tahapan melakukan smash adalah…
a. Langkah awalan d. Berlari menghampiri net
b. Langkah untuk meloncat e. Mendarat
c. Memukul bola
9. Orang yang pertama menciptakan permainan bola basket adalah …
a. William G.Morgan d. Gulix
b. James A.Naismith e. John Lock
c. John Smith
10. Induk organisasi bola basket nasional adalah …
a. FIFA b. FIBA c. PERBASI d. FBIA e. PBSI
11. Gerakan pivot dalam basket berfungsi untuk …
a. Melindungi bola dari rebutan lawan d. Merebut bola dari lawan
b. Menembak kering dari jarak jauh e. Membuka peluang terjadinya pelanggaran
c. Menembak kering dari jarak dekat
12. Tembakan dalam basket yang dilakuakan dengan jarak dekat sekali dari ring dan didahului gerakan 2 langkah disebut …
a. Jump shot b. Lay up c. Pivot d. Dribble e. Passing
13. Kejuaraan softball pertama di Indonesia pada tahun 1967 bertemu di…..
a. Bandung b. Jakarta c. Palembang d. Surabaya e. Yogyakarta
14. Keberhasilan seorang batter dalam melakukan bunt di tentukan oleh ….
a. Kecepatan pukulan d. Kecepatan pivot foot
b. Kecepatan lemparan bola e. Kecepatan gerak tubuh
c. Kecepatan lari
15. Berikut ini merupakan jarak yang di tempuh dalam lari jarak menengah yaitu ….
a. 100 m b. 200 m c. 400 m d. 1.500 m e. 5.000 m
16. Unsur pokok lompat tinggi adalah sebagai berikut, kecuali….
a. Awalan b. Tolakan c. Melewati mistar d. Landing e. Melempar
17. Berikut ini termasuk bentuk latihan untuk meningkatkan daya tahan jantung dan paru – paru adalah…
a. Back lift b. Sit up c. Pereangan dinamis d. Maraton e. Latihan beban
18. Dalam lari jarak menengah , pelari mulai melakkan lari cepat jika…..
a. Memulai start d. Sampai di 50 m menjelang garis finish
b. Sudah menempuh jarak 200 m e. Sudah menempuh jarak 50 m
c. Sampai 200 m menjelang garis finish

19. Formasi dalam permainan sepak bola dapat diartikan sebagai cara….
a. Kombinasi pemain d. Penyerangan pemain depan
b. Pertahanan pemain belakang e. Penempatan pemain
c. Variasi penyerangan
20. Berhasil atau tidaknya suatu penyerangan dalam pemain bola volli sebagian besar bergantung pada…..
a. Pemberian bola pada pemain penyerang yang bersangkutan
b. Pendaratan dari posisi serang d.Postur tubuh penyerang Posisis penyerangan bola
c. Lebar angkah penyerang e.Posisis penyerangan bola
21. Lompat tinggi merupakan olahraga yang berada dibawah naungan organisasi….
a. PSSI b. PEPSIBASI c. PERSINASI d. PASI e. PBSI
22. Alat yang digunakan untuk menentukan arah mata angin adalah …..
a. Kompas b. Peta c. Altimeter d. GPS e. Jam tangan
23. Lepasan serangan satu tangan dilakukan dengan cara – cara sebagai berikut….
a. Putaran b. Serangan c. Tangkisan balasan d. Sundulan e. Sentakan
24. Jika tim yang melakukan servise dalam permainan bola voli memenangkan reli, maka yang melakukan servis pasca reli disebut…..
a. Toser d. Pemain yang sama sebelum reli
b. Set upper e. Pemain dibarisan depan
c. Smasher
25. Untuk dapat melakukan headspring terlebih dahulu harus menguasai …..
a. Headstand b. Forward roll c. Back roll d. Neckspring e. Set upper
26. Dalam permainan softball , saat bola dipukul berada didaerah outfield, cra yang paling baik untuk melemparkan kembali kedaerah infield adalah…..
a. Cut of the ball b. Double play c. Steal d. Run down e. Relays ball
27. Dalam permainan sepak bola pola 4-4-2, permainan tengah berfugsi sebagai…..
a. Pengatur pergerakan serangan untuk mengancam gawang lawan
b. Pengendali lapangan tengah dan pengatur tempo permainan
c. Menjaga daerah pertahahanan lawan
d. Pelindung pemain lawan
e. Pertahahan dari gawangnya
28. Ketika melihat seorang penyerang dalam posisi offside, maka yang dilakukan hakim garis adalah…..
a. Meniup peluit dan menghentklan permainan d. Memberi kartu merah
b. Mengangkat bendera e. hukuman tendangan bebas tidak langsung
c. Meberi kartu kuning Membrikan
29. Pandai melakukan shooting dan mengontrol bola diarea pertahanan lawan merupakan karakteristik pemain bola pada posisi…..
a. Libero b. Gelandang c. Striker d. Wing back e. Sayap kanan
30. Apabila suatu tim tidak memiliki pemain jangkung sebaiknya menggunakan pola penyerangan…..
a. Diamond b. ault man c. offensive d. defensive e. resense
31. Ayunan lengan pada lari jarak menengah dilakukan mengarah….
a. Kedepann setinggi kepala d. Menyilang didepan basan
b. Ke dagu e. Kedepan setinggi lutut
c. Kesamping kepala

32. Sistem penilaian dalam permainan bulu tangkis dewasa ini menggunakan sistem ……
a. Game point b. Match point c. Set point d. Point guard e. Rally point
33. Usaha menguasai lawan dengan tangkapan sempurna dalam pencak silat dinamakan….
a. Jatuhan b. Kuncian c. Tangkapan d. Lepasan e. Bantingan
34. Pertolongan pertama yang dilakukan ketika ada peserta berkemah yang keracunan adalah….
a. Dipanggilkan tim SAR d. Bila ada, minum air kelapa
b. Dibawa ke dokter atau rumah sakit terdekat e. Biarkan tidur sejenak
c. Minum air putih sebanyak – banyaknya
35. Posisi mendarat yang baik dalam melakukan lompat jongkok adalah dengan…..
a. Salah satu kaki terkuat d. Kedua kaki mengeper
b. Kedua kaki diluruskan e. Kedua kaki ditekuk
c. Kedua kaki ditegangkan
36. Taktik atau sistem permainan ganda bulu tangkis memiliki….
a. Dua macam b. Tiga macam c. Empat macam d. Lima macam e. Enam macam
37. Akhir gerakan tangan kedepan renang gaya dada posisi telapak tangan menghadap ke….
a. Atas b. Bawah c. Luar d. Samping e. Dalam
38. Dalam gerakan recovery kaki pada renang gaya dada, saat menarik kaki ke depan dilakukan dengan…..
a. Cepat b. Keras c. Kuat d. Pelan e. Kencang
39. Latihan sit-up bermanfaat untuk melatih kekuatan dan daya otot….
a. Dada b. Leher c. Perut d. Lengan e. paha
40. Service dalam bola voly diartikan sebagai …
a. serangan pertama d. syarat dalam permainan
b. pukulan permulaan e. tanda dimulainya suatu permainan
c. penyajian bola pertama
41. Pada dasarnya ukuran lapangan bola voly adalah …
a. 6 m X 12 m b. 7 m X 14 m c. 8 m X 16 m d. 9 m X 18 m e. 10 X 20 m
42. Seorang pemain bola basket tidak boleh berada dalam daerah bersarat lawan ketika bola dalam kontrak regunya lebih dari …
a. 3 detik b. 5 detik c. 10 detik d. 24 detik e. 30 detik
43. Dalam Suatu pertandingan sepak bola waktu yang digunakan adalah …
a. 2 X 45 menit dengan istirahat 5 menit
b. 2 X 45 menit dengan istirahat 10 menit d. 2 X 45 menit dengan istirahat 15 menit
c. 2 X 45 menit dengan istirahat 20 menit e. sesuai keputuran bersama
44. Ukuran titik pinalty dalam permainan sepak bola dari garis gawang adalah …
a. jaraknya 9 meter
b. jaraknya 10 meter d. jaraknya 12 meter
c. jaraknya 11 meter e. jaraknya 13 meter
45. Start yang diguakan pada nomor lari jarak menengah adalah …
a. start jongkok d. start berlari
b. start berdiri e. start menengah
c. start melayang

ANALISIS KESULITAN BELAJAR BAHASA ARAB PADA MATA KULIAH ISTIMA’ I “

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Tidak dapat disangkal lagi, bahwa bahasa adalah sistem lambang berupa bunyi yang bersifat sewenang-wenang (arbitrer) yang dipakai oleh anggota-anggota masyarakat untuk saling berhubungan dan berinteraksi (Sumarsono, 2004: 18). Bahasa juga berfungsi sebagai alat yang digunakan seseorang untuk mengemukakan pendapat, pikiran dan perasaannya kepada orang lain. Dengan bahasa manusia bisa membentuk masyarakat dan peradaban. Andaikata tidak ada bahasa, maka dia tidak akan dapat melakukan hal tersebut di atas. Atas dasar inilah maka sangat wajar bila kita mengatakan bahwa semua aktivitas yang kita lakukan sepanjang hidup kita selalu membutuhkan bahasa.
Kebanyakan orang belajar lebih dari satu bahasa. Seseorang mungkin dapat mengetahui atau belajar dua bahasa atau lebih dari permulaan hidupnya. Yang lebih terbiasa ialah bahwa dia belajar bahasa kedua atau bahasa asing sesudah sistem bahasa pertamanya mantap.
Tidak dapat di sangkal, bahwa seseorang yang mempelajari suatu bahasa asing akan mendapati kesulitan-kesulitan, yang mana kesulitan-kesulitan ini dapat diperkecil apabila dia memiliki faktor-faktor pendorong yang sangat kuat atau dengan kata lain dia memiliki keinginan yang kuat untuk mempelajari bahasa tersebut.
Oleh karena kajian bahasa tidak cukup dengan mengenali ciri-ciri konstruksi bahasa, tetapi ia harus lengkap dengan mengenali fungsi dalam kerangka masyarakat (Hamdani, 2004: 7). Maka seseorang yang ingin mempelajari bahasa kedua atau bahasa asing di tuntut untuk memiliki keterampilan-keterampilan berbahasa, yang mana keterampilan ini dapat dia kembangkan dan kuasai sesuai dengan motivasinya dalam mempelajari bahasa keduanya.
Rajiman membagi keempat keterampilan tersebut di atas kepada keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis (Tarigan 1986 :1). Keempat aspek tersebut sangat berkaitan dan tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya.
Bahasa asing dapat dengan mudah dipelajari bila dibandingkan dengan mempelajari bahasa dari suatu daerah. Dengan maksud, para pembelajar dapat mempergunakan empat keterampilan berbahasa dilingkungan penuturnya. Oleh karena itu, empat keterampilan berbahasa ini dapat dipelajari dan dipergunakan.
Menyimak dalam proses berbahasa merupakan keterampilan pemula yang harus dimiliki oleh seseorang yang sedang mempelajari suatu bahasa. Keterampilan ini memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan proses-proses berfikir yang mendasari bahasa. Hal ini dipertegas oleh Dawson sebagaimana yang di kutip oleh Tarigan bahwa melatih keterampilan berbahasa berarti pula melatih keterampilan berfikir”. (Tarigan, 1986:1)
Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa asing yang lambat laun mulai dipelajari oleh para pembelajar di dunia. Di Indonesia pun bahasa ini mulai dipelajari, terlebih lagi bahwa mayoritas masyarakatnya beragama Islam, yang mana mereka memiliki kitab Al-Qur’an yang diturunkan dengan bahasa Arab.
Salah satu perbedaan bahasa Arab dengan bahasa lainnya yaitu bahwa bahasa ini memiliki banyak kata-kata ambigu, dan tidak jarang satu kata mempunyai dua atau tiga arti yang berlawanan. Tapi, dalam saat yang sama seseorang dapat menemukan kata yang tidak mengandung kecuali satu makna yang pasti saja. (Shihab, 2001: 98)
Bagi pembelajar Indonesia, menyimak bukanlah suatu hal yang dapat di anggap mudah. Hal ini dikarenakan dalam setiap harinya kesempatan untuk menyimak bahasa Arab sangatlah sedikit. Dan bagi pembelajar bahasa Arab, masalah yang dihadapi pada saat mempelajari Istima’ biasanya adalah suara, kosakata, struktur kalimat dan sebagainya.
Selain kesulitan dalam hal berbahasa, banyak kesulitan lain yang muncul dalam mempelajari Istima’. Kesulitan ini dapat berupa permasalahan yang berasal dari diri pribadinya (instrinsik) dan dari lingkungan (ekstrinsik), kesulitan lainnya pun dapat disebabkan dari hal-hal yang menghambat pada Proses Belajar Mengajar (PBM), seperti kurangnya fasilitas pendukung kelancaran PBM, terlampau banyaknya jumlah mahasiswa dalam satu kelas, kurangnya motivasi, ketidakhadiran dosen dan sebagainya.
Berdasarkan pemaparan di atas, maka penulis ingin mengadakan penelitian seputar kesulitan mempelajari bahasa Arab. Penelitian ini berangkat dari pengalaman penulis yang kerap kali mendapatkan kesulitan dalam mempelajari bahasa Arab dalam mata kuliah Istima’. Dengan alasan inilah, maka peneliti memberi judul penelitian: Analisis Kesulitan Belajar Bahasa Arab Pada Mata Kuliah Istima’ I (Studi Analisis Deskriptif Terhadap Mahasiswa Program Pendidikan Bahasa Arab Angkatan 2004/2005 ______________________).

B. RUMUSAN MASALAH
Penulis membatasi permasalahan dalam penelitian ini yang hanya akan membahas mengenai hal-hal yang menjadi permasalahan bagi mahasiswa Program Pendidikan Bahasa Arab _____ yang meliputi:
a. Faktor-faktor instrinsik yang mencakup motivasi, minat, dan psikologis mahasiswa dalam belajar bahasa Arab.
b. Faktor-faktor ekstrinsik yang mencakup lingkungan disekitar kampus dengan berbagai proses belajar mengajar di kelas.
Penelitian ini hanya dilakukan kepada mahasiswa Program Pendidikan Bahasa Arab Angkatan 2004/2005 ________________________ yang telah mengikuti perkuliahan Istima’ I.
Adapun rumusan masalah dari penelitian ini penulis operasionalkan kedalam pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:
1. Apakah permasalahan yang dihadapi oleh mahasiswa Program Pendidikan Bahasa Arab Angkatan 2004/2005 _____________________________________ dalam mempelajari keterampilan menyimak pada mata kuliah Istima’ I ditinjau dari faktor instrinsik pembelajar ?
2. Apakah permasalahan yang dihadapi oleh mahasiswa Program Pendidikan Bahasa Arab Angkatan 2004/2005 ______________________________ dalam mempelajari keterampilan menyimak pada mata kuliah Istima’ I ditinjau dari faktor ekstrinsik pembelajar ?

C. TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN
1. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai oleh penulis dari penelitian ini adalah untuk mengungkap kesulitan-kesulitan yang di dapat oleh para pembelajar bahasa Arab dalam mempelajari Istima’I, untuk kemudian memberikan solusi dari permasalahan tersebut. Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah:
1.1. Untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi oleh mahasiswa Program Pendidikan Bahasa Arab Angkatan 2004/2005 _________________________ dalam mempelajari keterampilan menyimak pada mata kuliah Istima’ I ditinjau dari faktor instrinsik pembelajar.
1.2. Untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi oleh mahasiswa Program Pendidikan Bahasa Arab Angkatan 2004/2005 _____________________________ dalam mempelajari keterampilan menyimak pada mata kuliah Istima’ I ditinjau dari faktor ekstrinsik pembelajar.
2. Kegunaan Penelitian
Banyak kegunaan yang diharapkan penulis dapat lahir dari penelitian ini, diantaranya adalah penelitian ini dapat memberikan sumbangsih yang nyata bagi perkembangan pembelajaran bahasa Arab pada _____________________________ juga dapat memberikan informasi tentang kesulitan yang dialami oleh mahasiswa dalam mata kuliah Istima’ I, sehingga semua pihak yang terkait merasa perlu untuk mencari faktor penyebab dan juga solusi yang signifikan dalam mengatasi kesulitan tersebut. Adapun kegunaan lain yang diharapkan penulis dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
2.1. Untuk pengajar:
Penelitian ini dapat dijadikan bahan pemikiran dan pertimbangan oleh pengajar untuk lebih meningkatkan metode pembelajaran, khususnya pada mata kuliah Istima’ I untuk lebih meningkatkan kualitas hasil yang di dapat dari mata kuliah ini.
2.2. Untuk mahasiswa:
Penelitian ini dapat mereka gunakan sebagai motivasi untuk lebih giat lagi dalam mempelajari bahasa Arab, sehingga mereka mampu memperkecil kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi.
2.3. Untuk penulis:
Penelitian ini dapat menambah pengetahuan penulis dalam menyikapi kesulitan-kesulitan yang dihadapi mahasiswa dalam mempelajari mata kuliah Istima’ I, sehingga penulis dapat memberikan solusi untuk mengatasi kesulitan tersebut.

D. DEFINISI OPERASIONAL
Agar tidak terdapat kesalahan dalam menafsirkan judul penelitian, maka berikut ini penulis akan menjelaskan definisi operasional yang terdapat pada judul penelitian:
1. Analisis,
adalah penyelidikan suatu peristiwa (karangan, perbuatan dan sebagainya) untuk mengetahui apa sebabnya, bagaimana duduk perkaranya dan sebagainya (Poerwadarminta, 1984: 40). Adapun analisis dalam penelitian ini adalah menganalisis kesulitan-kesulitan yang di dapat oleh para mahasiswa Program Pendidikan Bahasa Arab Angkatan 2004/2005 __________________________ dalam mempelajari mata kuliah Istima’I.
2. Belajar dan Kesulitan Belajar,
Suatu proses perubahan tingkah laku seseorang (dalam arti luas) yang ditimbulkan/diubah melalui praktek dan latihan (Garry & Kingsley, 1970: 15). Kesulitan belajar adalah masalah yang dihadapi oleh siswa pada saat proses belajar mengajar sehingga tidak berhasil mencapai taraf kualifikasi hasil belajar tertentu (Muhibbin Syah, 2001: 172). Yang dimaksud dengan kesulitan belajar dalam penelitian ini adalah kesulitan mahasiswa dalam mempelajari bahasa Arab pada mata kuliah Istima’ I

E. ASUMSI
Asumsi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Kesulitan yang di dapati mahasiswa yang berasal dari faktor-faktor instrinsik yang mencakup motivasi, minat, dan psikologis mahasiswa dalam belajar bahasa Arab.
2. Kesulitan yang di dapati mahasiswa yang berasal dari faktor-faktor ekstrinsik yang mencakup lingkungan disekitar kampus dengan berbagai proses belajar mengajar di kelas.

F. SISTEMATIKA PENULISAN
Sistematika penulisan yang penulis susun dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
BAB I: PENDAHULUAN, terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, definisi operasional, asumsi, dan sistematika penulisan.
BAB II: ANALISIS TEORITIS MENGENAI BELAJAR DAN MENYIMAK (ISTIMA’), terdiri dari pembahasan mengenai pengertian belajar, tujuan belajar, kesulitan belajar, kesulitan belajar bahasa Arab, pengertian menyimak, mata kuliah Istima’ dan pengertiannya, tujuan mata kuliah Istima’.
BAB III: METODOLOGI PENELITIAN, terdiri dari metode penelitian, populasi dan sampel penelitian, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data.
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYA
BAB V: KESIMPULAN DAN S
– See more at: http://education-secret.blogspot.com/2013/04/skripsi-pendidikan-bahasa-arab-analisis.html#sthash.PgDUrnbR.dpuf

IBU MUDA ( BUNDA )

Menjadi ibu muda merupakan proses belajar untuk melatih kesabaran,keikhlasan dan tanggung jawab, bahkan terkadang menguras tenaga dan emosi, menjadi ibu muda yang tetap ingin memberikan asi ekslusif 6 bulan bagi buah hati dan di teruskan sampai umur 2 tahun merupakan perjuangan yang luar biasa namun tetap terasa indah jika melihat senyum buah hati kita dan tiap detik terus bersama nya love you my dillah….
Seorang ibu merupakan pendidik pertama yang anak terima, maka menjadi ibu tak cukup hanya pandai memasak saja meskipun itu juga penting untuk pemenuhan gizi keluarga, tapi menjadi ibu pun butuh pendidikan yang mumpuni agar bisa mencetak generasi yang unggul, menjadi seorang ibu bukan saja hanya mengasuh dan menemani sang buah hati tetapi ibu merupakan pembangun peradaban di masa yang akan datang karena dengan didikan pertama dari sang ibu menentukan kualitas kecerdasan anak, maka dari itu kita sebagai seorang ibu perlu lah hati – hati dalam bersikap dan berucap karena setiap kebersamaan kita dengan sang anak merupakan proses pembelajaran bagi sang anak.
Masa buah hati kita usia 0 – 2 tahun merupakan masa golden age dan semua nya itu harus di isi dengan hal hal yang positif dan membangun karakter yang positif bagi anak karena pada masa itu anak benar – benar meniru sikap atau tingkah yang kita lakukan.
Contoh kecil putri saya dillah usia nya baru 15 bulan setiap saya dan dillah masuk ke rumah saya pasti ucapkan salam dan sungguh luar biasa tanpa komando lagi dillah pun mengikuti mengucapkan salam dengan suara khas nya yaitu tum maksud nya assalamualaikum tapi karena belum bisa jadi dillah hanya bilang tum,,,,
Luar biasa ya kawan – kawan menjadi seorang ibu itu merupakan hal yang terindah walau terkadang tak sedikit di antara ibu ibu yang mengorbankan pekerjaan atau aktifitas nya dulu untuk lebih mementingkan anak, tapi rasa nya tak pantas pekerjaan kita di luar di bandingkan dengan menemani sang anak karena menemani sang anak adalah tugas kita dan asi adalah hak nya,,,,
Keep fighting ya mom 
Foto1199

KHULU DAN FASAKH

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Akhir-akhir ini sering terlihat di televisi, seorang isteri mengajukan gugat cerai terhadap suaminya. Berita tersebut semakin hangat, karena si penggugat yang sering diekspos di media televisi adalah figure atau artis-artis terkenal. Gugat cerai tersebut ada yang berhasil, yaitu jatuhnya talak, atau karena keahlian hakim dan pengacara, gugat cerai urung dilanjutkan, sehingga rumah tangga mereka terselamatkan.
Padahal mereka mengikatkan diri dalam lembaga perkawinan adalah dalam rangka melaksanakan perintah Allah s.w.t. sebagaimana banyak dikutip dalam setiap undangan walimahan (resepsi pernikahan), yaitu termaktub dalam surat Ar-Rum ayat 21 yang berbunyi: “Dan di antara tanda-tandaNya bahwa Dia menciptakan jodoh untuknya dari dirimu (bangsamu) supaya kamu bersenang-senang kepadanya, dan Dia mengadakan sesama kamu kasih saying dan rahmat. Sesungguhnya yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang yang berfikir”. Berdasarkan ayat ini pula, maka tujuan perkawinan dalam Islam adalah untuk membentuk keluarga sakinah, mawaddah wa-rahmah.
Bisa jadi, karena mereka sudah tidak dapat mempertahankan keluarga yang sakinah, mawaddah wa-rahmah, maka salah satu pihak menggunakan haknya, baik suami atau isteri untuk mengajukan gugatan cerai, padahal dalam Islam, cerai memang dihalalkan Allah, namun sangat dibenci olehNya (“Sesungguhnya perbuatan yang boleh, tetapi sangat dibenci Allah adalah talak”, hadits riwayat Abu Daud dan Ibn Majah).

B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini agar pembahasan lebih terfokus ada beberapa rumusan masalah di antaranya:
1. Apa penrertian khulu dan fasakh?
2. apa akibat hokum khuli’ dan fasakh?

BAB II
PEMBAHASAN

1. KHULU’
A. Pengertian Khulu’
Al-Khulu, dalam bahasa Indonesia disebut Gugatan cerai. Kata Al-Khulu dengan didhommahkan hurup kha’nya dan disukunkan huruf Lam-nya, berasal dari kata ‘khul’u ats-tsauwbi. Maknanya melepas pakaian. Lalu digunakan untuk istilah wanita yang meminta kepada suaminya untuk melepas dirinya dari ikatan pernikahan yang dijelaskan Allah sebagai pakaian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Mereka itu adalah pakaian, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka”[Al-Baqarah : 187]
Sedangkan menurut pengertian syari’at, para ulama mengatakan dalam banyak defenisi, yang semuanya kembali kepada pengertian, bahwasanya Al-Khulu ialah terjadinya perpisahan (perceraian) antara sepasang suami-isteri dengan keridhaan dari keduanya dan dengan pembayaran diserahkan isteri kepada suaminya . Adapaun Syaikh Al-Bassam berpendapat, Al-Khulu ialah perceraian suami-isteri dengan pembayaran yang diambil suami dari isterinya, atau selainnya dengan lafazh yang khusus”

B. Hukum AL-Khulu’
Al-Khulu disyariatkan dalam syari’at Islam berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami-isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang yang zhalim’ [Al-Baqarah : 229]
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma.

“Isteri Tsabit bin Qais bin Syammas mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata ; “Wahai Rasulullah, aku tidak membenci Tsabit dalam agama dan akhlaknya. Aku hanya takut kufur”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Maukah kamu mengembalikan kepadanya kebunnya?”. Ia menjawab, “Ya”, maka ia mengembalikan kepadanya dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya, dan Tsabit pun menceraikannya” [HR Al-Bukhari]
Demikian juga kaum muslimin telah berijma’ pada masalah tersebut, sebagaimana dinukilkan Ibnu Qudamah [3], Ibnu Taimiyyah [4], Al-Hafizh Ibnu Hajar [5], Asy-Syaukani [6], dan Syaikh Abdullah Al-Basam [7], Muhammad bin Ali Asy-Syaukani menyatakan, para ulama berijma tentang syari’at Al-Khulu,

C. Ketentuan Hukum Al-Khulu
Menurut tinjauan fikih, dalam memandang masalah Al-Khulu terdapat hukum-hukum taklifi sebagai berikut.
[1]. Mubah (Diperbolehkan).
Ketentuannya, sang wanta sudah benci tinggal bersama suaminya karena kebencian dan takut tidak dapat menunaikan hak suaminya tersebut dan tidak dapat menegakkan batasan-batasan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ketaatan kepadanya, dengan dasar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami-isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya” [Al-Baqarah : 229]
Al-Hafizh Ibnu Hajar memberikan ketentuan dalam masalah Al-Khulu ini dengan pernyataannya, bahwasanya Al-Khulu, ialah seorang suami menceraikan isterinya dengan penyerahan pembayaran ganti kepada suami. Ini dilarang, kecuali jika keduanya atau salah satunya merasa khawatir tidak dapat melaksanakan apa yang diperintahkan Allah. Hal ini bisa muncul karena adanya ketidaksukaan dalam pergaulan rumah tangga, bisa jadi karena jeleknya akhlak atau bentuk fisiknya. Demikian juga larangan ini hilang, kecuali jika keduanya membutuhkan penceraian, karena khawatir dosa yang menyebabkan timbulnya Al-Bainunah Al-Kubra (Perceraian besar atau Talak Tiga) [10]
Syaikh Al-Bassam mengatakan, diperbolehkan Al-Khulu (gugat cerai) bagi wanita, apabila sang isteri membenci akhlak suaminya atau khawatir berbuat dosa karena tidak dapat menunaikan haknya. Apabila sang suami mencintainya, maka disunnahkan bagi sang isteri untuk bersabar dan tidak memilih perceraian. [11]
[2]. Diharamkan Khulu’, Hal Ini Karena Dua Keadaan.
a). Dari Sisi Suami.
Apabila suami menyusahkan isteri dan memutus hubungan komunikasi dengannya, atau dengan sengaja tidak memberikan hak-haknya dan sejenisnya agar sang isteri membayar tebusan kepadanya dengan jalan gugatan cerai, maka Al-Khulu itu batil, dan tebusannya dikembalikan kepada wanita. Sedangkan status wanita itu tetap seperti asalnya jika Al-Khulu tidak dilakukan dengan lafazh thalak, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian kecil dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata” [An-Nisa : 19] [12]
Apabila suami menceraikannya, maka ia tidak memiliki hak mengambil tebusan tersebut. Namun, bila isteri berzina lalu suami membuatnya susah agar isteri tersebut membayar terbusan dengan Al-Khulu, maka diperbolehkan berdasarkan ayat di atas” [13]
b). Dari Sisi Isteri
Apabila seorang isteri meminta cerai padahal hubungan rumah tangganya baik dan tidak terjadi perselisihan maupun pertengkaran di antara pasangan suami isteri tersebut. Serta tidak ada alasan syar’i yang membenarkan adanya Al-Khulu, maka ini dilarang, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Semua wanita yang minta cerai (gugat cerai) kepada suaminya tanpa alasan, maka haram baginya aroma surga” [HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad, dan dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam kitab Irwa’ul Ghalil, no. 2035] [14]
[3]. Mustahabbah (Sunnah) Wanita Minta Cerai (Al-Khulu).
Apabila suami berlaku mufarrith (meremehkan) hak-hak Allah, maka sang isteri disunnahkan Al-Khulu. Demikian menurut madzhab Ahmad bin Hanbal. [15]
[4]. Wajib
Terkadang Al-Khulu hukumnya menjadi wajib pada sebagiaan keadaan. Misalnya terhadap orang yang tidak pernah melakukan shalat, padahal telah diingatkan. Demikian juga seandainya sang suami memiliki keyakinan atau perbuatan yang dapat menyebabkan keyakinan sang isteri keluar dari Islam dan menjadikannya murtad. Sang wanita tidak mampu membuktikannya di hadapan hakim peradilan untuk dihukumi berpisah atau mampu membuktikannya, namun hakim peradilan tidak menghukuminya murtad dan tidak juga kewajiban bepisah, maka dalam keadaan seperti itu, seorang wanita wajib untuk meminta dari suaminya tersebut Al-Khulu walaupun harus menyerahkan harta. Karena seorang muslimah tidak patut menjadi isteri seorang yang memiliki keyakinan dan perbuatan kufur .

D. Cara Menjatuhkan Khulu
Secara umum khulu dapat dilakukan denghan tiga cara: pertama menggunakan kata khulu’, kedua menggunakan kata cerai (thalak), dan ketiga dengan kiasan yang di sertaio dengan niat.
Dalam qaul qodim imam syafi’I berpendapat bahwa khulu yang dilakukan denghan menggunakan kata-kata kiasan mengakibatkan fasakh perkawinan. Yaitu perkawinan itu batal dengan sendirinya. Dan akad pernikahan tidak berlaku. Sedangkan dalam qaul jadid beliau berpendapat bahwa khulu yang dilakukan dengan menggunakan kata kiasan tidak mengakibatkan fasakh perkawinan karena kata-kata kinayah dalam talak tidak memerlukan niat begitu pula khulu.

E. Hikmah Khulu’
Mengenai hikmah khulu al Jurjawi menuturkan:
Khulu sendiri sebenarnya di benci oleh syariat yang mulia seperti halnya talak. Semua akal sehat dan perasaan sehat menolak khulu’ hanya saja Allah Yang Maha Bijaksana memperbolehkannya untuk menolak bahaya ketika tidak mampu menegakan hokum-hukum Allah.
Hikmah yang terkandung di dalamnya adalah manolak bahaya yaitu apabila perpecahan antara suami istri telah memuncak dan dikhawatirkan keduanya tidak dapat menjaga syari’at-syariat dalam kehidupan suami istri, maka khulu dengan cara yang telah di tetapkan oleh Allah merupakan penolakan terjadinya permusuhan dan untuk menegakan hokum-hukum Allah.

2. FASAKH
A. Pengertian
Fasakh adalah surak atau putusnya perkawinan melaluoi pengadilan yang hakikatnya hak suami-istri di sebabkan sesuati yang diketahui setelah akad berlangsung. Misalnnya suatu penyakit yang muncul setelsah akad yang menyebabkan pihak lain tidak dapat merasakan arti dan hakikat sebuah perkawinan .
Selain fasakh ada juga istilah yang hampir sama dengan fasakh yaitu fasid. Maksud dari fasid adalah merupakan siuatu putusanb pengadilan yang diwajibkan melalui persidangan bahwa perkawinan yang telah dilangsungkan tersebut mempunyai cacat hokum, hal itu disebabkan misalnya tidak terpenuhinya persyaratan atau rukun nukah atau disebabkan di langgarnya ketentuan yang mengharamkan perkawinan tersebut.

B. Akibat Hukum
Perceraian yang diakibatkan fasakh tidak mengurangi bilangan talak sebab fasakh bukan bagian dari talak. Jadi kalau yang telah bercerai itu kemudian kembnali melalui pernikahan yang baru setelah menyadari dan rela dengan keadaan seperti apa adanya, talak yang dia kiliki masih utuh.
Jiaka pemisahan itu terjadi sebelum terjadi hubugan suami istri, maka tidak ada mahar bagi istri. Apakah pemisalah itu dari puhak suami atau pihak istri, sebab jika fasakh itu dari pihak istri maka haknya gugur dan jika pemisahan itu datang dari pihak suami dan hal itu di sebabkan cacat yang di sembunyikan oleh istri terhadap suaminya maka ia tidak berhak mendapatkan mahar. Namun jika pemisahan dilakukan sesudah terjadi hubungan suami istri maka ia berhak mendapatkan mahar dan pemisahan dilakukan oleh hakim (pengadilan)
Dan seorang suami tidak boleh dengan sengaja berlaku buruk di dalam mempergauli istrinya dengan maksud agara istri menyerahkan harta(mahar) nya.kepada suami sebagai ganti rugi atas permintaannya (ayat surat an-Nisa 19)

C. Yang Menyebabkan Faskh
Para ulama telah sepakat bahwa apabila salah satu pihak dari suami istri mengetahui ada ‘aib pada pihak lain sebelum ‘aqad nikah itu diketahuinya sesudah ‘aqad tetapi ia sudah rela secara tegas ata8u ada tanda yang menunjukan kerelaanny maka ia tidak mempunyai hak lagi untuk meminya fasakh dengan alas an ‘aib itu bagaimanapun.
Ada 8 (delapan) aib atau cacat yang membolehkan khiyar di antaranya:
Tiga berada dalam keduanya (suami-istri) yaitu: gila, penyekit kusta dan supak.
Dua terdapat dalam laki-laki yaitu: ‘unah (lemah tenaga persetubuhannya), impoten
Tiga lagi berasal dari perempuan yaitu: tumbuh tulang dalam lubang kemaluan yang menghalangi persetubuhan, tumbuh kemaluan dan tumbuh dagingdalam kemaluan, atau terlaluy basah yang menyebabkan hilangnya kenikmatan persetubuhamn
Ketika suami pergi tidak tahu kemana istri tidak boleh di fasakhkan sebelum benar-benar diketahui kemana suaminya itu pergi. Akan tetapi menurut maliki di tangguhkan sampai 4 tahun sesudah itu difasakhkan oleh hakim atas tuntutan istri
Sebagian ulama berpendapat hakim boleh memasakhkan sesudah di beri masa tenggang yang dipandang perlu oleh hakim. Paling baikdi tunggu 4 tahun mengingat perhubungan di masa itu sukar dan sulit

KESIMPULAN

Dari uraian di atas dapat di ambil beberapa kesimpulan dantaranya:
Khulu’ maupun fasakh adalah dua bentuk talak yang dikategorikan atas inisiatif isteri, dan tak ada perbedaan yang jelas. Ini sebagai bukti bahwa Islam tetap mengakomodasi hak-hak wanita (isteri), walaupun hak dasar talak ada pada suami, namun dalam keadaan tertentu, isteri juga mempunyai hak yang sama, yaitu dapat melakukan gugatan cerai terhadap suaminya melalui khulu’ maupun fasakh.
Hokum khuliu tergantung situasi yang ada pada saat itu.
Begitu juga dalam fasakh.

DAFTAR PUSTAKA

Sa’id Abdul Aziz Al-Jandul, Wanita Diantara Fitrah, Hak Dan Kewajiban, Pustaka Dariul Haq, Jakarta: 2003
Rahmat Hakim Hokum Perkawinan Isalm, Pustaka Setia, Bandung: 2000
Abdurrahman Ghazali, Fiqh Munakahat, Kencana, Jakarta: 2006
Jaih Mubarok, Modifikasi Hokum Islam, Rajawali Pers, Jakarta:2002
Sayyid sabiq Shahih Fiqhis Sunnah
Taudhihul Ahkam, juz 5
Hasby Ash-Sidiqi, Hukum-Hukum Fiqih Islam, Bulan Bintang, Jakarta: 1991

pernikahan1

KENANGAN MELAHIRKAN

Sudah dua tahun usia pernikahan saya dengan suami saya, banyak hal yang kami lalui bersama sampai saat ini kami telah di karuniai bidadari kecil yang cantik,,,
Selama ini saya selalu merasa menjadi wanita yang paling beruntung karena memiliki suami yang begitu pengertian dan perhatian, bukti kasih sayangnya pada saya teruji ketika saya harus melahirkan, kebetulan malam itu tepat pukul 11 malam di awal agustus 2013 saya kontraksi hebat sampai ketuban pecah sebelum waktu nya, tiga hari saya di rawat di RS dan karena saya tetap ingin melahirkan secara normal namun selama tiga hari itu tak ada perubahan dari kondisi saya air ketuban tetap keluar dan pembukaan tidak bertambah hingga akhir nya dokter memberi keputusan untuk caesar, suami saya tak pernah meninggalkan saya dan selalu menemani di rumah sakit. Dia juga tidak membiarkan saya ke kamar mandi sendiri, setelah dua hari operasi. Dengan sabar dan tanpa rasa jijik dia ikut masuk ke kamar mandi, menunggui bahkan mengambil alih tugas suster untuk memandikan saya.
Saya kira sayalah perempuan yang paling beruntung dibandingkan ketiga perempuan lain yang sama sama operasi caesar. Saya menyaksikan sendiri bagaimana seorang ibu terpaksa menahan nyeri dan berjalan sambil menenteng infus ke kamar mandi.
Hal ini saya ingat betul bagaimana kebaikan suami saya yang membuat saya sangat terharu, apalagi selepas pulang dari rumah sakit suami saya tetap sabar menemani saya hingga saya bisa melakukan aktifitas sendiri dan mengurus anak.
Terima kasih sayang untuk semua nya….
04082013278

ilmu lughoh

PEMBAHASAN
A. Tata Bahasa Transformasi
Dalam buku Noam Chomsky yang berjudul Syntatic Structure pada tahun 1957, dan dalam buku Chomsky yang kedua yang berjudul Aspect of the Theory of Syntax pada tahun 1965. mengembangkan model tata bahasa yaitu transformational generative grammar.
Pengertian transformation hanya menjadi bagian dari satu tipe yang terpenting dalam generative grammar atau tata bahasa generatif. Pengertian generatif mengandung dua makna, makna pertama, generatif menuju kepada pengertian produktivitas dan kreatifitas bahasa. Seperangkat kaidah atau pernyataan manapun yang memberikan kemungkinan untuk menganalisis bahasa atau struktur dari sejumlah besar kalimat yang tak terbatas dapat disebutkan generatif. Makna kedua adalah kombinasi unsur – unsur dasar ( fonem, morfem, kata, dan sebagainya ) yang disusun secara tepat.
Tujuan penelitian bahasa adalah untuk menyusun tata bahasa dari bahasa tersebut. Bahasa
dapat dianggap sebagai kumpulan kalimat yang terdiri dari deretan bunyi yang
mempunyai makna maka haruslah dapat menggambarkan bunyi dan arti dalam bentuk
kaidah – kaidah yang tepat dan jelas. Syarat untuk memenuhi teori dari bahasa dan tata
bahasa yaitu :
1. kalimat yang dihasilkan oleh tata bahasa itu harus dapat diterima oleh pemakai
bahasa tersebut, sebagai kalimat yang wajar dan tidak dibuat – buat.
2. Tata bahasa tersebut terus berbentuk sedemikian rupa, sehingga satuan atau istilah
tidak berdasarkan pada gejala bahasa tertentu saja dan semuanya ini harus sejajar
dengan teori linguistic tertentu.
Konsep language dan paroleh dari de sausure, Chomsky membedakan adanya
kemampuan (kompeten) dan perbuatan berbahasa (performance). Jadi objeknya adalah
kemampuan. Seorang peneliti bahasa harus mampu menggambarkan kemampuan si
pemakai bahasa untuk mengerti kalimat yang tidak terbatas jumlahnya, yang sebagian
besar, barangkali, belum pernah didengarnya atau dilihatnya. . Kemampuan membuat
kalimat – kalimat baru disebut aspek kreatif bahasa
Tata Bahasa dari setiap bahasa terdiri dari tiga komponen, yaitu :
(1) KomponenSintaksis.
Komponen sintaksis merupakan “sentral” daritatabahasa ,karena ;
a. Komponen inilah yang menentukan arti kalimat
b. Komponen ini pulalah yang menggambarkan aspek kreativitas bahasa.
(2) KomponenSemantic.
Komponen Semantik memberikan interpretasi semantic pada deretan unsure yang dihasilkan oleh sub komponen dasar.Arti kalimat yang dihasilkan ditentukan oleh komponen ini.Artisebuah morfem dapat digambarkan dengan memberikan unsure makna atau cirri semantik yang membentuk arti morfem itu.
(3) KomponenFonologis.
Komponen Fonologis, menentukan bentuk fonetik dari sebuah kalimat yang dibangkitkan oleh kaidah sintaksis. Ia menghubungkan sebuah struktur yang dilahirkan oleh komponen sintaksis dengan simbol yang dinyatakan secara fonetis.

B. Semantik Generatif
. Struktur semantic itu serupa dengan struktur logika. Struktur logika itu tergaqmbar sebagai berikut :
Preposisi

Predikat Argumen 1 Argumen 2
Menurut teori semantik generatif, argument adalah segala dssesuatu yang
dibicarakan; sedangkan predikat itu semua yang menunjukan hubungan, perbuatan, sifat ,
keanggotaan, dan sebagainya.
Struktur ini serupa dengan struktur logika, berupa ikatan tak berkala antara predikat
dengan argumen dalam suatu proposisi.
Contohnya : dalam kalimat “Nenek minum kopi” (preposisi)→ mempunyai predikat
berargumen dua yakni : nenek dan kopi atau dapat dirumuskan: MINUM(nenek,kopi).
Dalam kalimat “Nenek marah” predikatnya punya satu argumen yakni : nenek. /
MARAH(nenek).
C. Tata Bahasa Kasus
Tata bahasa kasus diperkenalkan oleh Charles J. Fillmore. Fillmore membagi
kalimat atas :
1. Modalitas, yang berupa unsure negasi, kala, aspek, dan adverbia.
2. Proposisi, yang terdiri dari sebuah verba disertai dengan sejumlah kasus.

Kalimat

modalitas proposisi
negasi verba
kala kasus
aspek
adverbial
Yang dimaksud dengan kasus dalam teori ini adalah hubungan antara verba dengan
nomina. Verba di sini sama dengan predikat, sedangkan nomina sama dengan argument
dalam teori semantic generatif.
Tata bahasa ini mempunyai persamaan dengan Semantik generatif yaitu sama-sama menumpukkan teorinya pada predikat atau verba.
Contoh: dalam kalimat “Toni memukul bola dengan tongkat”, mempunyai argumen1
Toni berkasus “pelaku”, argumen2 bola “tujuan” dan argumen3 tongkat “alat”.
Rumus : + ( –X,Y,Z)
X = pelaku, Y= alat, Z = tujuan
Misal dalam kalimat diatas : MEMUKUL, + (–X,Y,Z)
X = nenek, Y = tongkat, Z = bola.
Fillmore membatasi kasus atas agen (pelaku), experiencer (yang mengalami peristiwa), object (yang dikenai perbuatan), means, source (keadaan, tempat, waktu yang lalu), goal (keadaan, tempat, waktu yang kemudian), referential (acuan).

Makalah tentang imam sya’fii

BAB I
Pendahuluan

Orang banyak mengenal Imam syafi’I adalah sebagai ahli fikih bahkan sampai sekarang banyak umat Islam yang tetep setia mengikuti pendapatnya yang terlembagakan menjadi madzhab. Namun, dibalik keterkenalannya dalam bidang fiqih, ia juga seorang yang mumpuni dalam bidang yang sangat dekat dengan persoalan-persoalan fiqih, yaitu dalam bidang hadits dan ilmu hadits serta ilmu bahasa.
Ar risalah adalah sebuah kitab karya imam syafii yang menjelaskan secara terperinci tentang ushul fiqh Oleh sebab itu, mengikuti pendapat mayoritas, kitab ini dipilih sebagai bahan telaah atas materi-materi awal yang berkembang dalam Ushul Fiqh.
Karena kategorisasi ar-Risalah sebagai kitab ushul fiqh adalah kategorisasi ulama pasca asy-Syafi`i dan asy-Syafi`i sendiri tidak menyebut kitabnya sebagal kitab ushul fiqh maka dapat dimaklumi jika tidak akan ditemukan definisi ushul fiqh dalam kitab ini.
Dalam makalah ini, pemakalah akan memaparkan tentang kitab Ar risalah karya Imam Syafi’I, mencakup biografi Imam Syafi’I, sistematika dan karakteristik kitab Ar risalah, dan kontribusi Imam syafi’I terhadap perkembangan ilmu bahasa Arab.

A. Biografi imam syafii
Nama Dan Nasab Imam syafii
Imam syafii adalah Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin as-Saib bin ‘Ubaid bin ‘Abdu Yazid bin Hasyim bin Murrah bin al-Muththalib bin ‘Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Lu`ay bin Ghalib Abu ‘Abdillah al-Qurasyi asy-Syafi’i al-Makki, keluarga dekat Rasulullah SAW dan putera pamannya.
Al-Muththalib adalah saudara Hasyim yang merupakan ayah dari ‘Abdul Muththalib, kakek Rasulullah SAW. Jadi, Imam asy-Syafi’i berkumpul (bertemu nasabnya) dengan Rasulullah pada ‘Abdi Manaf bin Qushay, kakek Rasulullah yang ketiga
Sebutan “asy-Syafi’i” dinisbatkan kepada kakeknya yang bernama Syafi’ bin as-Saib, seorang shahabat junior yang sempat bertemu dengan Raasulullah SAW ketika masih muda.
Sedangkan as-Saib adalah seorang yang mirip dengan Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan bahwa ketika suatu hari Nabi SAW berada di sebuah tempat yang bernama Fushthath, datanglah as-Saib bin ‘’Ubaid beserta puteranya, yaitu Syafi’ bin as-Saib, maka Rasulullah SAW memandangnya dan berkata, “Adalah suatu kebahagiaan bila seseorang mirip dengan ayahnya.” Sementara ibunya berasal dari suku Azd, Yaman.
Imam syafii digelari sebagai Naashir al-Hadits (pembela hadits) atau Nasshir as-Sunnah, gelar ini diberikan karena pembelaannya terhadap hadits Rasulullah SAW dan komitmennya untuk mengikuti as-Sunnah.
Para sejarawan sepakat, imam syafii lahir pada tahun 150 H, yang merupakan -menurut pendapat yang kuat- tahun wafatnya Imam Abu Hanifah RAH tetapi mengenai tanggalnya, para ulama tidak ada yang memastikannya.
Ada banyak riwayat tentang tempat kelahiran Imam asy-Syafi’i. Yang paling populer adalah bahwa beliau dilahirkan di kota Ghazzah (Ghaza). Pendapat lain mengatakan, di kota ‘Asqalan bahkan ada yang mengatakan di Yaman.
Imam al-Baihaqi mengkonfirmasikan semua riwayat-riwayat tersebut dengan mengatakan bahwa yang shahih beliau dilahirkan di Ghaza bukan di Yaman. Sedangkan penyebutan ‘Yaman’ barangkali maksudnya adalah tempat yang dihuni oleh sebagian keturunan Yaman di kota Ghaza. Beliau kemudian lebih mendetail lagi dengan mengatakan, “Seluruh riwayat menunjukkan bahwa Imam asy-Syafi’i dilahirkan di kota Ghaza, lalu dibawa ke ‘Asqalan, lalu dibawa ke Mekkah.”
Imam asy-Syafi’i tumbuh di kota Ghaza sebagai seorang yatim, di samping itu juga hidup dalam kesulitan dan kefakiran serta terasing dari keluarga. Kondisi ini tidak menyurutkan tekadnya untuk hidup lebih baik. Rupanya atas taufiq Allah, ibunya membawanyanya ke tanah Hijaz, Mekkah. Maka dari situ, mulailah imam asy-Syafi’i kecil menghafal al-Qur’an dan berhasil menamatkannya dalam usia 7 tahun.
Menurut pengakuan asy-Syafi’i, bahwa ketika masa belajar dan mencari guru untuknya, ibunya tidak mampu membayar gaji gurunya, namun gurunya rela dan senang karena dia bisa menggantikannya pula. Lalu ia banyak menghadiri pengajian dan bertemu dengan para ulama untuk mempelajari beberapa masalah agama. Ia menulis semua apa yang didengarnya ke tulang-tulang yang bila sudah penuh dan banyak, maka ia masukkan ke dalam karung.
Ia juga bercerita bahwa ketika tiba di Mekkah dan saat itu masih berusia sekitar 10 tahun, salah seorang sanak saudaranya menasehati agar ia bersungguh-sungguh untuk hal yang bermanfa’at baginya. Lalu ia pun merasakan lezatnya menuntut ilmu dan karena kondisi ekonominya yang memprihatinkan, untuk menuntut ilmu ia harus pergi ke perpustakaan dan menggunakan bagian luar dari kulit yang dijumpainya untuk mencatat.
Hasilnya, dalam usia 7 tahun ia sudah hafal al-Qur’an 30 juz, pada usia 10 tahun (menurut riwayat lain, 13 tahun) ia hafal kitab al-Muwaththa` karya Imam Malik dan pada usia 15 tahun (menurut riwayat lain, 18 tahun) ia sudah dipercayakan untuk berfatwa oleh gurunya Muslim bin Khalid az-Zanji.
Imam asy-Syafi’i amat senang dengan syair dan ilmu bahasa, terlebih lagi ketika ia mengambilnya dari suku Hudzail yang dikenal sebagai suku Arab paling fasih. Banyak bait-bait syair yang dihafalnya dari orang-orang Hudzail selama interaksinya bersama mereka. Di samping syair, beliau juga menggemari sejarah dan peperangan bangsa Arab serta sastra.
Kapasitas keilmuannya dalam bahasa ‘Arab tidak dapat diragukan lagi, bahkan seorang imam bahasa ‘Arab, al-Ashmu’i mengakui kapasitasnya dan mentashhih sya’ir-sya’ir Hudzail kepadanya.
Di samping itu, imam asy-Syafi’i juga seorang yang bacaan al-Qur’annya amat merdu sehingga membuat orang yang mendengarnya menangis bahkan pingsan. Hal ini diceritakan oleh Ibn Nashr yang berkata, “Bila kami ingin menangis, masing-masing kami berkata kepada yang lainnya, ‘bangkitlah menuju pemuda al-Muththaliby yang sedang membaca al-Qur’an,” dan bila kami sudah mendatanginya sedang shalat di al-Haram seraya memulai bacaan al-Qur’an, orang-orang merintih dan menangis tersedu-sedu saking merdu suaranya. Bila melihat kondisi orang-orang seperti itu, ia berhenti membacanya.
Di Mekkah, setelah dinasehati agar memperdalam fiqih, ia berguru kepada Muslim bin Khalid az-Zanji, seorang mufti Mekkah. Setelah itu, ia dibawa ibunya ke Madinah untuk menimba ilmu dari Imam Malik. Di sana, beliau berguru dengan Imam Malik selama 16 tahun hingga sang guru ini wafat (tahun 179 H). Pada saat yang sama, ia belajar pada Ibrahim bin Sa’d al-Anshary, Muhammad bin Sa’id bin Fudaik dan ulama-ulama selain mereka.
Sepeninggal Imam Malik, asy-Syafi’i merantau ke wilayah Najran sebagai Wali (penguasa) di sana. Namun betapa pun keadilan yang ditampakkannya, ada saja sebagian orang yang iri dan menjelek-jelekkannya serta mengadukannya kepada khalifah Harun ar-Rasyid. Lalu ia pun dipanggil ke Dar al-Khilafah pada tahun 184 H. Akan tetapi beliau berhasil membela dirinya di hadapan khalifah dengan hujjah yang amat meyakinkan sehingga tampaklah bagi khalifah bahwa tuduhan yang diarahkan kepadanya tidak beralasan dan ia tidak bersalah, lalu khalifah menjatuhkan vonis ‘bebas’ atasnya. (kisah ini dimuat pada rubrik ‘kisah-kisah islami-red.,).
Beliau kemudian merantau ke Baghdad dan di sana bertemu dengan Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibany, murid Imam Abu Hanifah. Beliau membaca kitab-kitabnya dan mengenal ilmu Ahli Ra`yi (kaum Rasional), kemudian kembali lagi ke Mekkah dan tinggal di sana selama kurang lebih 9 tahun untuk menyebarkan madzhabnya melalui halaqah-halaqah ilmu yang disesaki para penuntut ilmu di Haram, Mekkah, demikian juga melalui pertemuannya dengan para ulama saat berlangsung musim haji. Pada masa ini, Imam Ahmad belajar dengannya.
Kemudian beliau kembali lagi ke Baghdad tahun 195 H. Kebetulan di sana sudah ada majlisnya yang dihadiri oleh para ulama dan disesaki para penuntut ilmu yang datang dari berbagai penjuru. Beliau tinggal di sana selama 2 tahun yang dipergunakannya untuk mengarang kitab ar-Risalah. Dalam buku ini, beliau memaparkan madzhab lamanya (Qaul Qadim). Dalam masa ini, ada empat orang sahabat seniornya yang ‘nyantri’ dengannya, yaitu Ahmad bin Hanbal, Abu Tsaur, az-Za’farany dan al-Karaabiisy.
Kemudian beliau kembali ke Mekkah dan tinggal di sana dalam waktu yang relatif singkat, setelah itu meninggalkannya menuju Baghdad lagi, tepatnya pada tahun 198 H. Di Baghdad, beliau juga tinggal sebentar untuk kemudian meninggalkannya menuju Mesir.
Beliau tiba di Mesir pada tahun 199 H dan rupanya kesohorannya sudah mendahuluinya tiba di sana. Dalam perjalanannya ini, beliau didampingi beberapa orang muridnya, di antaranya ar-Rabi’ bin Sulaiman al-Murady dan ‘Abdullah bin az-Zubair al-Humaidy. Beliau singgah dulu di Fushthath sebagai tamu ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam yang merupakan sahabat Imam Malik. Kemudian beliau mulai mengisi pengajiannya di Jami’ ‘Amr bin al-‘Ash. Ternyata, kebanyakan dari pengikut dua imam sebelumnya, yaitu pengikut Imam Abu Hanifah dan Imam Malik lebih condong kepadanya dan terkesima dengan kefasihan dan ilmunya.
Di Mesir, beliau tinggal selama 5 tahun di mana selama masa ini dipergunakannya untuk mengarang, mengajar, berdebat (Munazharah) dan meng-counter pendapat-pendapat lawan. Di negeri inilah, beliau meletakkan madzhab barunya (Qaul Jadid), yaitu berupa hukum-hukum dan fatwa-fatwa yang beliau gali dalilnya selama di Mesir, sebagiannya berbeda dengan pendapat fiqih yang telah diletakkannya di Iraq. Di Mesir pula, beliau mengarang buku-buku monumentalnya, yang diriwayatkan oleh para muridnya.

BAB III
KESIMPULAN DAN PENUTUP
Imam Syafi’I yang selama ini terkenal dengan Ahli Fiqih ternyata juga mempunyai perhatian yang serius trhadap hadits dan sunnah, sehingga ia dijuluki sebagai Nashir As Sunnah.
Kitab Ar risalah adalah karya orisinil Imam Syafi’I yang memuat pemikirann-pemikirannya di bidang hukum. Ar risalah merupakan kitab fiqih terbesar di masanya. Kitab ini membahas berbagai persoalan lengkap dengan dalil-dalilnya, baik dari Al Quran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas.
Imam asy-Syafi’i amat senang dengan syair dan ilmu bahasa, terlebih lagi ketika ia mengambilnya dari suku Hudzail yang dikenal sebagai suku Arab paling fasih. Banyak bait-bait syair yang dihafalnya dari orang-orang Hudzail selama interaksinya bersama mereka. Di samping syair, beliau juga menggemari sejarah dan peperangan bangsa Arab serta sastra.
Kapasitas keilmuannya dalam bahasa ‘Arab tidak dapat diragukan lagi, bahkan seorang imam bahasa ‘Arab, al-Ashmu’i mengakui kapasitasnya dan mentashhih sya’ir-sya’ir Hudzail kepadanya.