AL MUSYTARAK AL LAFDZI

BAB I

Pendahuluan

Suatu kata mempunyai hubungan satu sama lain dalam berbagai bentuk. Ini merupakan akibat dari kandungan komponen makna yang kompleks. Ada beberapa hubungan semantis (antar makna) yang memperlihatkan adanya persamaan, pertentangan, tumpang tindih, dan sebagainnya. Hubungan inilah yang dikenal dalam ilmu bahasa, di antaranya, sebagai sinonim, antonim, hiponim, homonim dan polisemi.[1]

Dalam setiap bahasa,seringkali kita temui adanya hubungan kemaknaan atau relasi semantik antara sebuah kata atau satuan bahasa lainnya dengan kata atau satuan bahasa lainnya lagi. Hubungan atau relasi kemaknaan ini mungkin salah satunya menyangkut hal kelainan makna (homonimi).[2] Oleh karena itu, pada makalah ini kami akan membahas tentang penegrtian homonimi beserta contohnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

Pembahasan

  1. A.    Homonim

الهومونيم : عبارة عن كلمات متشابهة في النطق والكتابة ولكنها مختلفة في الدلالة.

Homonimi (Al-Musytarak Al-Lafdzi) adalah beberapa kata yang sama, baik pelafalannya maupun bentuk tulisannya, tetapi maknanya berlainan. Sesungguhnya, kata-kata yang berhomonimi merupakan kata-kata yang berlainan dan kebetulan bentuknya sama. Oleh karena itu, maknanya juga tidak sama.[3]

Homonimi ialah dua ujaran dalam bentuk kata yang sama lafalnya dan atau sama ejaannya/tulisannya.

Jika dua ujaran kata yang sama bunyinya dan atau sama ejaannya telah diketahui berasal dari sumber bahasa yang berbeda, maka dua kata yang ejaan dan lafalnya sama itu merupakan homonim.[4]

Kata homonimi berasal dari bahasa Yunani kuno onama yang artinya “nama”, dan homo yang artinya “sama”. Secara harfiah homonimi dapat diartikan sebagai “nama sama untuk  benda atau hal lain “. Secara semantik, verhaar (  1978 ) memberi definisi homonimi sebagai ungkapan (berupa kata, frasa atau kalimat) yang bentuknya sama dengan ungkapan lain (juga berupa kata, frase atau kalimat) tetapi maknanya tidak sama.

Umpamanya antara kata pacar yang berarti “inai” dengan pacar yang berarti “kekasih”; antara kata bisa yang berarti “racun ular” dan kata bisa yang berarti “sanggup, dapat”. Contoh lain, antara kata baku  yang berarti “standar” dengan baku yang berarti “saling”.

Hubungan antara kata pacar dengan arti “inai” dan kata pacar dengan arti “kekasih” inilah yang disebut homonim. Jadi kata pacar yang pertama berhomonim dengan kata pacar yang kedua. Begitu juga sebaliknya karena hubungan homonimi ini bersifat dua arah.[5]

Contoh lain, dalam Bahasa Arab, kata (غرب) dapat bermakna arah barat (الجهة) dan juga bermakna timba (الدلو). Contoh lain, kata (الجد) memiliki 3 (tiga) makna, yaitu: (1) bapak dari ayah/ibuأبو الأم / أبو الأب) ), (2) bagian, nasib baik (الحظ، البحت), (3) tepi sungai  (شاطئ النهر). Demikian pula dengan kata (السائل) dapat bermakna orang yang meminta (الذي يسأل) dan bermakna sesuatu yang mengalir (الذي يسيل).[6]

Kalau ditanyakan, bagaimana bisa terjadi bentuk-bentuk yang homonimi ini? Ada dua kemungkinan sebab terjadinya homonimi ini?

Pertama, bentuk-bentuk yang berhomonimi itu berasal dari bahasa atau dialek yang berlainan. Misalnya, kata bisa yang berarti “racun ular” berasal dari bahasa Melayu sedangkan kata bisa yang berarti “sanggup” berasal dari bahasa Jawa. Contoh lain kata bang yang berarti “azan” berasal dari bahasa Jawa, sedangkan kata bang (kependekan dari abang) yang berarti “kakak laki-laki” berasal dari bahasa Melayu/dialek Jakarta. Kata asal yang berarti “pangkal, permulaan” berasal dari bahasa Melayu, sedangkan kata asal yang berarti “kalau” berasal dari dialek Jakarta.

Kedua, bentuk-bentuk yang bersinonimi itu terjadi sebagai hasil proses morfologi. Umpamanya kata mengukur dalam kalimat Ibu sedang mengukur kelapa di dapur adalah berhomonimi dengan kata mengukur dalam kalimat petugas agraria itu mengukur luasnya kebun kami. Jelas, kata mengukur yang pertama terjadi sebagai hasil proses pengimbuhan awalan me- pada kata kukur (me+kukur = mengukur); sedangkan kata mengukur yang kedua terjadi sebagai hasil proses pengimbuhan awalan me- pada kata ukur (me+ukur = mengukur ).

Sama halnya dengan sinonimi dan antonimi, homonimi inipun dapat terjadi pada tataran morfem, tataran kata, tataran frase, dan tataran kalimat.

Homonimi antar morfem, tentunya antara sebuah morfem terikat dengan morfem terikat yang lainnya. Misalnya, antara morfem -nya pada kalimat: “Ini buku saya,  itu bukumu, dan yang disana bukunya“ berhomonimi dengan -nya pada kalimat  “Mau belajar tetapi bukunya belum ada”. Morfem -nya yang pertama adalah kata ganti orang ketiga sedangkan morfem -nya yang kedua menyatakan sebuah buku tertentu.

Homonimi antar kata, misalnya antara kata bisa yang berarti “racun ular” dan kata bisa yang berarti “sanggup, atau dapat” seperti sudah disebutkan di muka. Contoh lain, antara kata semi yang berarti “tunas” dengan kata semi yang  berarti “tunas” dan kata semi yang berarti “setengah”.

Homonimi antarfrase, misalnya antara frase cinta anak yang berarti “perasaan cinta dari seorang anak kepada ibunya” dan frase cinta anak yang berarti “cinta kepada anak dari seorang ibu”. Contoh lain, orang tua yang berarti “ayah ibu” dan frase orang tua yang berarti “orang yang sudah tua”. Juga antara frase lukisan Yusuf yang berarti “lukisan milik Yusuf, dan lukisan Yusuf yang berarti “lukisan hasil karya Yusuf”, serta lukisan Yusuf yang berarti “lukisan wajah Yusuf”.

Homonimi antarkalimat, misalnya, antara Istri lurah yang baru itu cantik yang berarti “lurah yanng baru diangkat itu mempunyai istri yang cantik”, dan kalimat Istri lurah yang baru itu cantik yang berarti “lurah itu baru menikah lagi dengan seorang wanita yang cantik”.[7]

Homonimi, dalam Bahasa Arab, bukan hanya terjadi pada kata, tetapi juga bisa terjadi pada kalimat. Misalnya, (أنا لا أريد نصحك) kalimat ini bisa memiliki makna ganda, yaitu (أنا لا أريد أن أنصحك) artinya: Aku tidak ingin aku menasehatimu, dan juga bermakna (أنا لا أريد تنصحني) artinya: Aku tidak ingin kamu menasehatiku.

Contoh lain homonimi dalam kalimat (أطعمت عشرين رجلا وامرأة). Kalimat ini bisa memiliki beberapa makna, yaitu: “Aku member makan 15 orang pria dan 5 wanita”, “Aku member makan 10 orang pria dan 10 wanita”, dan seterusnya.[8]

Dalam kajian ilmu Balaghah, homonimi disebut dengan istilah Jinas, yaitu kemiripan dua kata yang berbeda maknanya. Dengan kata lain, suatu kata yang digunakan pada tempat yang berbeda dan mempunyai makna yang berbeda.

Contoh, firman Allah SWT (QS. Ar-Ruum; 55) :

ويوم تقوم الساعة يقسم المجرمون ما لبثوا غير ساعة،  كذالك كانوا يؤفكون.

“Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa; “mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat (saja)”. Seperti demikianlah mereka selalu dipalingkan (dari kebenaran).”

Pada ayat di atas, terdapat kata الساعة. Kata itu disebut dua kali. Pertama, bermakna hari kiamat. Kedua, bermakna waktu sesaat. Pengungkapan suatu kata yang mempunyai dua makna karena disebut pada tempat yang berbeda, dalam ilmu Balaghah, dinamakan Jinas. Sedangkan dalam ilmu Linguistik, pengertian semacam ini disebut Homonimi.[9]

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

Kesimpulan

 

Homonimi (Al-Musytarak Al-Lafdzi) adalah beberapa kata yang sama, baik pelafalannya maupun bentuk tulisannya, tetapi maknanya berlainan.

Contohnya, kata pacar yang berarti “inai” dengan pacar yang berarti “kekasih”; antara kata bisa yang berarti “racun ular” dan kata bisa yang berarti “sanggup, dapat”. Contoh lain, antara kata baku  yang berarti “standar” dengan baku yang berarti “saling”.

Contoh dalam Bahasa Arab, kata (غرب) dapat bermakna arah barat (الجهة) dan juga bermakna timba (الدلو). Contoh lain, kata (الجد) memiliki 3 (tiga) makna, yaitu: (1) bapak dari ayah/ibuأبو الأم / أبو الأب) ), (2) bagian, nasib baik (الحظ، البحت), (3) tepi sungai  (شاطئ النهر). Demikian pula dengan kata (السائل) dapat bermakna orang yang meminta (الذي يسأل) dan bermakna sesuatu yang mengalir (الذي يسيل).

 


[2] Abdul Chaer, “Pengantar Semantik Bahasa Indonesia”, (Jakarta; PT Rineka Cipta, 1995), hal. 82

[3] Taufiqurrahman, “Leksikologi Bahasa Arab”, (UIN-Malang Press, 2008), hal. 67

[4] J. D Parera, “Teori Semantik”, (Jakarta; Erlangga, 2004), hal. 81

[5] Abdul Chaer, “Pengantar Semantik Bahasa Indonesia”, (Jakarta; PT Rineka Cipta, 1995), hal. 93-94

[6] Taufiqurrahman, “Leksikologi Bahasa Arab”, (UIN-Malang Press, 2008), hal. 68

[7] Abdul Chaer, “Pengantar Semantik Bahasa Indonesia”, (Jakarta; PT Rineka Cipta, 1995), hal. 95-96

[8] Taufiqurrahman, “Leksikologi Bahasa Arab”, (UIN-Malang Press, 2008), hal. 70

[9] Ibid, hal. 67-69

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s